KBMN-kini kutemukan

 Komunitas hebat ini bernama KBMN PGRI

     'Kelas Belajar Menulis Nusantara (KBMN)', awalnya terdengar aneh namun terasa unik dan menarik untuk ditelisik. Niat awal sekedar ingin tahu dan coba cari jawab rasa penasaranku dengan mendaftar pada kegiatan Temu Penulis KBMN BP PGRI melalui sebuah tautan link yang aku dapat dari teman secara tak sengaja. Temu Penulis KBMN di Asrama Haji Yogyakarta mengantarku pada sebuah fakta bahwa KBMN adalah sebuah komunitas keren dan luar biasa. Orang-orang dan guru-guru hebat berkumpul untuk belajar menulis dan lahir setelah ditempa dengan beragam tahapan dengan pendampingan para senior dan guru yang gigih dan tak kenal lelah dalam memberikan pencerahan. Om Jay sang penggagas dan Bunda Kanjeng sang moderator adalah sepasang literat sejati yang banyak berperan pada sejarah KBMN. 

       Hari Senin, tgl 3 Juli pukul 19.00 sd pukul 21.00 kegiatan diawali dengan pemateri Prof.. Ngainun Na'im tentang 'Literasi, Hobbi dan Pengembangan Diri' melalui Zoom Meeting. Beberapa point penting disampaikan bahwa menulis adalah aktivitas praktik bukan teori yang dapat dilakukan siapa saja dan kapan saja. Tulislah apa saja yang ada dipikiran, jangan memikirkan apa yang akan ditulis, adalah jargon awal agar mau berlatih menulis. Kualitas tulisan akan sangat dipengaruhi oleh seberapa sering seseorang menulis. Disiplin dan komitmen adalah salah satu kunci sukses seorang penulis. Luangkan waktu untuk menulis meskipun hanya 2 atau 3 paragraf setiap hari. Tulislah semua yang ada di pikiran, mengedit di waktu yang berbeda. Baca kembali apa yang telah ditulis, teliti dan cek serta perbaiki kekurangannya. Itulah pesan penting dari Zoom Meeting Setelah mengikuti kegiatan secara Zoom Meeting, aku mulai sedikit kenal beberapa peserta meskipun secara online dan mulai ada gambaran, bahwa kegiatan di KBMN  asyik untuk diikuti.

     Hari ke-2 kegiatan, merupakan hari pertamku mengenal KBMN secara of line melalui kunjungan ke MTSN 6 Bantul. Pada sesi sambutan, beberapa orang penting di KBMN memberikan prolog dan informasi tentang latar belakang kegiatan dan sejarah singkat KBMN dari awal sampai saat ini telah mencapai kelas ke -29, ya aku berada di kelas ke-29, terlambatkah? Sambil terus berkegiatan, rasa penasaranku semakin membuncah, ada apa dengan MTSN 6 Bantul? Aku yang bermukim di Yogyakarta saja belum pernah mendengar kelegihan MTSN 6 Bantul, kenapa dipilih untuk dikunjungi? bukankah masih banyak sekolah lain yang lebih waow? 

     Sekitar 3 Jam rombongan berada di MTSN 6 Bantul, otakku mulai terbuka dengan sebuah fakta, bahwa MTSN 6 Bantul adalah sebuah sekolah menengah yang awalnya biasa-biasa saja bahkan tak masuk kategori sekolah yang dirujuk masyarakat, kini menjelma menjadi sebuah sekolah yang layak diperhitungkan bukan hanya di kancah regional namun sudah go-nasional pada beberapa kategori untuk jenjang sekolah menengah pertama terutama pada aspek yang terkait dengan literasi. Bahkan Kepala Madarasah Ibu Mafrudah, S.Ag, M.Pd.I menyampaikan bahwa pada tahun 2023 beberapa siswa lulusannya berhasil dengan hafalan Al-Qur'an sebanyak 16 juz, capaian yang luar biasa! dan yang lebih membuat tercengang lagi ternyata Kepala Sekolah dan beberapa guru MTSN 6 adalah pegiat KBMN, Keren...!!!

      Setelah mendapatkan pengalaman baik dari pegiat KBMN di MTSN 6 Bantul, kami dibawa ke penerbit Andi Offset, penerbit yang mampu bertahan dan bertumbuh di tengah gempuran pesatnya perkembangan teknologi dan era digitalisai. Informasi baik tentang kiat mengembangkan bisnis disampaikan oleh manajer pemasaran beserta timnya. Selain mengembangkan bahan ajar digital, aplikasi pendukung pembelajaran juga tengah dikembangkan bahkan melebar pada layanan tour and travel dengan berbagai varian layanan kualitas dan harga. Setelah dirasa cukup, peserta workshop dibawa ke Monumen Jogja Kembali. Meskipun bagi kami Monjali adalah tempat yang biasa, namun yang tidak biasa adalah kebersamaan dengan teman-teman baru di komunitas KBMN, karena sejatinya rasa penasaran masih harus terjawab melalui obrolan sembari menemani teman dari luar DIY menikmati salah satu destinasi cukup bersejarah di wilyah Jogja istimewa hingga skitar pukul 17.00 rombongan kembali ke Asrama Haji.

        Keesokan harinya, tepatnya hari ke-3, kegiatan Workshop dihadiri wakil ketua PGRI DIY, Drs. Edi Suwarno, Sekretaris PGRI, Bp. Kisworo, Om Jay  selaku vonder bloggeer yang hebat,  Dr. Catur Nurrohman, M.Pd. dan Kak Kusumo sebagai narasumber. Om Jay pada sambutannya menyampaikan kembali tentang sejarah singkat KBMN dilanjutkan dengan materi dari ketua PGRI DIY yang diwakili oleh Drs. Edi Suwarno yang menyampaikan tentang pentingnya guru berliterasi dengan segala dampak positifnya, terutama untuk peningkatan karir dan profesionalitas. 

       Urgennya agar guru literat dikupas tuntas oleh Dr. Catur Nur Rohman, M.Pd., diawali dengan banyak membaca sesuai pesan Al-Qur'an. Nabi Muhammad, s.a.w, yang diperintah Allah melalui QS. Iqro' untuk membaca meskipun pada waktu itu  Nabi Muhammad s.a.w buta huruf. Bahkan banyak penemu ilmu-ilmu penting  adalah orang Islam. Karena kemauan literasi yang kurang maka temuan-temuan penting dikembangkan oleh orang-orang Barat, Cina dan Uni Sovyet. Minimnya semangat berliterasi berdampak tidak sedikit orangyang terkena informasi hoax dan penipuan secara on line. Bahkan dari data PISSA dan beberapa hasil surveylend, Indonesia selalu berada di urutan terendah dalam berliterasi. Jika hal ini dibiarkan cepat atau lambat negeri ini berada dalam bahaya terlebih jika para generasi muda sudah mengalami kecemasan dan ketergantungan akut pada gadget (nopobia) serta ketergantungan pada kecerdasan buatan akibat minimnya literasi. Melalui komunitas KBMN PGRI merupakan salah satu solusi dan jawaban dari kekhawatiran itu.

            Setelah pemaparan dan diskusi antara peserta dan pemateri, materi dilanjutkan dengan ice breaking oleh Kak Kusumo. Semakin menarik dan yakin bahwa KBMN adalah komunitas yang tepat untuk aku ikuti. Selain untuk berlatih menulis dengan terstruktur, banyak hal baik lain yang diteladankan oleh para senior dan lulusan KBMN. Bekerja keras, percaya diri, keakraban dan kekompakan serta saling menguatkan, susah ditemui pada komunitas lain. Bazar buku karya para alumnus KBMN adalah bukti bahwa komunitas ini bukan kumpulan guru kaleng-kaleng, namun sekumpulan guru-guru pembelajar yang ingin menjadi seseorang yang memiliki 'sesuatu' dan lain daripada yang lain. Bismillah, aku yakin bahwa pilihan ini tidak salah agar aku bisa menjadi orang yang dapat bermanfaat buat orang lain melalui karya dan tulisan, Insha Allah   

                                                                                                                               Yogyakarta, 5 Juli 2023

               

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tips Mengatasi Virus WB

Membuat Buku Ajar