Tips Mengatasi Virus WB
Judul : Tips Mengatasi Writer’s
Block
Resume : ke-6
Gelombang : 30
Hari/Tanggal : Jumat, 27 Oktober 2023
Tema : Mengatasi Writer’s Block
Narasumber : Ditta Widya Utami, S.Pd. Gr.
Moderator : Lely Suryani, S.Pd. SD.
Sahabat bloger yang budiman,
Pertemuan ke-6 ini
membahas tentang tips mengatasi witer’s block atau dikenal dengan istilah virus
WB, sangat menarik bukan? terutama bagi penulis pemula. Kehilangan mood, gak
ada ide, pikiran buntu dan seabreg permasalahan yang sangat menghambat dalam
berkarya adalah hal yang amat sering terjadi. Oleh karena itulah, bersama
Narasumber hebat malam ini Ibu Ditta Widya Utami, S.Pd. Gr. dan moderator Ibu Lely
Suryani, S.Pd. SD., peserta KBMN gelombang 30 akan mendapatkan pencerahan
tentang bagaimana cara mengatasi buntunya pikiran atau ketika terserang virus
WB dalam menulis.
Ibu Ditta Widya Utami,
S.Pd. Gr. adalah seorang guru IPA di SMPN 1 Cipeundeuy, Subang Jawa Barat.
Selain aktif di MGMP Ibu muda dengan satu orang anak ini juga telah melahirkan
6 buku solo dan 17 buku antologi. Selain itu seabreg penghargaan dibidang literasi
baik di tingkat kabupaten, provinsi maupun nasional telah diraihnya hebat
banget ya sahabat…? Sangat pantas jadi tim solid OM Jay…
Kehilangan ide, gagasan
serta kehilangan kemampuan menulis atau terserang virus WB dapat terjadi pada
siapa saja tanpa mengenal penulis pemula ataupun professional, begitu kata Ibu
Ditta mengawali materinya. WB dapat hinggap pada diri seseorang dalam hitungan
menit, jam, hari, minggu bahkan bulan. Jika
kita tidak mampu mengatasi virus ini, maka dampaknya sangat berbahaya karena
dapat mematikan produktivitas dan kreativitas dalam menulis, begitu imbuhnya.
Menurut Ibu Dita virus WB
adalah penyakit yang sangat mudah diobati jika kita tahu apa yang menjadi
penyebabnya. Oleh karenanya, mengenali diri sendiri sangat penting bagi seorang
penulis agar segera menemukan akar masalah viris yang sedang melandanya. Masih
menurut Ib Ditta, dari beberapa referensi yang ada WB dapat terjadi karena
beberapa hal, diantaranya:
1.
Mencoba Topik/Tema Baru
Misalnya, jika kita terbiasa
menulis di jurnal ilmiah, tiba-tiba mendadak diminta menulis novel remaja. Tentunya
untuk memulai hal baru akan butuh lebih banyak waktu untuk beradaptasi, dan
bisa saja tiba-tiba virus WB menyerang. Jika segera dapat mengatasinya,
tentulah novel akan dapat diselesaikan, namun jika sebaliknya, maka hanya akan
berhenti pada angan-angan dan novel akan terbengkalai.
2.
Stres dan Lelah Fisik/ mental
Aktivitas harian yang padat,
tekanan dari pekerjaan dll terkadang membuat kita (sadar/tidak) mengalami
stres. Dalam keadaan demikian jangan dipaksa untuk menulis karena fisik tentu
akan menyerah duluan.
Tidak jarang kita mendengan
keluhan "Duh gak ada waktu buat nulis. Soalnya lagi sibuk banget!". Jika
kita mau jujur pasti akan setuju bahwa setiap orang memiliki waktu yang sama
yakni 24 jam setiap hari. Misalnya Omjay yang sudah sangat sangat konsisten
menulis setiap hari. Bahkan sambil nunggu antrian di bank pun, Omjay masih bisa
sempatkan untuk menulis. Kata kuncinya adalah "menyempatkan waktu",
bukan menyisakan waktu untuk menulis. Om Jay pernah sampaikan bahwa menulis
adalah kebutuhan seperti halnya kebutuhan kita akan makan dan minum.
Jika terlalu penat, ambillah jeda
sejenak atau berganti aktivitas yang bisa menyegarkan pikiran terlebih dahulu
baru kemudian melanjutkan menulis.
3.
Terlalu Perfeksionis
Sebagai manusia tentulah hal yang
wajar jika ingin melalukan yang terbaik termasuk dalam aktivitas menulis. Hanya
mau berbagi tulisan jika sudah benar-benar bagus, alhasil karena tidak mau
dikomentari tentang kekurangannya dalam menulis, akhirnya tulisan hanya berhenti
dalam fikiran, dan seiring melajunya waktu, cepat atau lambat ide di fikiran
akan hilang dan musnah. Jika hal demikian dibiarkan dan terus dipelihara, maka
impian memiliki karya tulisan hanyalah sebatas mimpi dan di angan-angan saja.
Keinginan menulis dengan bagus
adalah hal yang wajar, namun jangan sekali kali ketakutan dan kekhawatiran yang
berlebihan malah menjadi boomerang untuk karya kita, akhirnya kita menjadi
mandul dan miskin karya. Kesalahan dan kekurangan adalah fitrah manusia, maka
jangan pernah takut salah dan kurang bangus dalam menulis. Jika kita mampu
menjaga konsistensi dalam menulis, maka secara perlahan kemampuan dan kualitas
dalam menulis akan terus bertambah.
Pada saat kita terserang WB,
cobalah menulis denganteknik free writing atau menulis dengan mengesampingkan
tentang salah ejaan, salah ketik, kohorensi dan kesalahan-kesalahan lain, yang
penting nulis, nulis dan nulis.
Itulah beberapa tips dalam
mengatasi virus WB menurut Ib Ditta. Selanjutnya dibuka sesi Tanya jawab
dipandu oleh Ib Lely Suryani, S.Pd. SD., diantara pertanyaannya:
P-1: Nur Hidayati-Kota
Tegal
Jika Mb Ditta terserang WB
apa yang dilakukan?
Jawab:
Baca
buku yang ringan dan menghibur, kuliner atau sekedar jalan keluar rumah dan
main sama anak juga bisa cukup me- recharge setelah itu, saya biasanya baca
lagi kerangka tulisan. Membuat kerangka tulisan bisa sangat membantu untuk
mengatasi WB dan memastikan tulisan kita selesai. Curhat lewat tulisan juga
termasuk salah satu cara mengatasi WB. Dalam istilah psikologi namanya menulis
ekspresif. Tekniknya kita tuangkan semua emosi kita dalam bentuk tulisan bahkan
yang bersifat traumatis sekali pun. Di dunia psikologi, hal tersebut terbukti
membantu memulihkan kesehatan mental tapi mesti hati hati juga jangan asal
publish. Keep on our diary saja misalnya terlebih kalau ada beberapa pihak yang
kita cantumkan dalam tulisan
P-2: Hidmi Gramatolina-
Lombok
Bagaimana
caranya bisa fokus dan berbagi fokus ketika ada priorotas lain? Saya menyadari
perfeksionis ini mengintai diri.
Jawab:
Buat skala preoritas.
…dll
sd P-15: Sri Mulyani
Sahabat
bloger yang budiman,
Dari
berbagai pertanyaan dapat disimpulkan diantaranya:
1.
Virus WB dapat diatasi dengan
mudah dengan mengidentifikasi penyebabnya. Setelah diketahui apa yang menjadi
penyebabnya, maka dilakukan pengobatan melalui komitmen kuat untuk terus
menulis dan menulis dengan penuh percaya diri dan optimis.
2.
Semakin sering menulis, maka
penyebab WB akan secara otomatis hilang dan pergi dari dalam diri penulis.
3.
Untuk menepis WB biasakan membuat
deadline, kerangka, minta umpan balik ke yg ahli, dan membuat skala prioritas yang
akan dilakukan serta "mengingat kembali niat untuk menulis". Yakin
bahwa setiap tulisan akan bertemu dengan pembacanya. Tidak jarang, apa yang
dianggap remeh dan sederhana bisa sangat berarti bagi orang lain, termasuk apa
yang kita tulis.
4.
Salah satu langkah mudah
beradaptasi dengan tulisan yang berbeda tema/topik/jenis adalah dengan membaca
beberapa karya sesuai yang akan kita buat. Bisa mulai dari bacaan fiksi di
media massa atau dari kiriman teman, pilih yang paling dekat dengan minat kita
lalu lahap tulisannya perlahan agar kita bisa mencermati diksi, struktur, dsb. Mark
Twain pernah berkata rahasia untuk maju adalah memulai. Rahasia untuk memulai
adalah memecah tugas-tugas rumit menjadi tugas yang lebih kecil dan mudah
dikelola. Ide itu dibuat bukan ditunggu, kita bisa pancing ide dengan
mengaktifkan indera indera kita.
5.
Saat ide mangkrak dapat dipancing
dengan gambar atau tulisan orang lain, bahkan dari sehelai rambut kucing yang
menempel di baju pun, bisa dibuat sebuah tulisan atau paragraf. Kalau kita
sudah buat kerangka tulisan lanjut buat
ide ide pokok setiap paragraf nya dulu atau yang sekarang sedang populer
gunakan teknik STAR (situasi, tantangan, aksi, refleksi) - kalau jenis tulisan
sesuai.
6.
Setiap tulisan memiliki ciri khas
tersendiri, puisi dengan diksi yang kuat, cerpen dengan alur yang singkat dan
tak banyak tokoh dan tulisan ilmiah yang tentunya based on data serta
menggunakan berbagai istilah ilmiah. Langkah bijak yg bisa kita lakukan sebelum
memulai adalah dengan mengenali unsur-unsur dari jenis tulisan yg akan kita
buat lalu dengan berbagai referensi, kita bisa mulai menulis.
7.
Dalam dunia kepenulisan,
terkadang proses editing memerlukan waktu yang sangaaaat lama. Bahkan bisa
lebih lama dari proses membuat naskah itu sendiri, inilah mengapa di saat
menulis, sebaiknya kita hindari godaan untuk mengedit tulisan kita. Pastikan
tulisan selesai terlebih dahulu baru edit, kalau takut tak sesuai kaidah kita
bisa cek di EYD, misalnya di sini:
https://ejaan.kemdikbud.go.id/
Mantul. Terima kasih sudah membuat resumenya.
BalasHapusMantul, komplit
BalasHapus